TRAINING
& ROLE PLAY
Mengubah pengetahuan menjadi kemampuan melalui demonstrasi, latihan, feedback, koreksi, dan repetisi.
→ FEEDBACK → REPEAT
Training bukan selesai ketika materi sudah dijelaskan.
Training selesai ketika trainee mampu melakukan standar secara benar, konsisten, dan semakin natural dalam situasi nyata.
Explain → Finish
Supervisor banyak bicara. Trainee banyak mendengar. Tidak ada bukti bahwa perilaku berubah.
Practice → Correct → Repeat
Supervisor memperagakan, trainee mencoba, gap dikoreksi, lalu latihan diulang sampai standar muncul.
T → D → R → F → R
Satu mesin training yang digunakan berulang untuk membangun skill.
Apa standarnya? Mengapa penting?
Supervisor memperagakan standar yang benar.
Trainee melakukan dalam scenario latihan.
Temukan gap. Jelaskan secara spesifik.
Ulangi sampai perilaku benar dan natural.
SHOW BEFORE YOU ASK.
Supervisor tidak boleh meminta standar yang ia sendiri tidak mampu peragakan. Demonstrasi mengubah instruksi abstrak menjadi contoh yang bisa ditiru.
TRAINER STANDARD
☐ Jelaskan tujuan skill
☐ Peragakan versi yang benar
☐ Peragakan kesalahan umum bila perlu
☐ Pecah skill menjadi langkah kecil
☐ Pastikan trainee memahami indikator sukses
☐ Baru minta trainee mencoba
ONE SCENARIO. ONE TARGET.
Role play yang efektif mempunyai konteks, peran, target perilaku, indikator penilaian, dan repetisi yang jelas.
CONTEXT
Apa situasinya?
Contoh: customer baru masuk showroom.
ROLE
Siapa memainkan siapa?
Supervisor = customer · trainee = sales.
TARGET
Skill apa yang dilatih?
Contoh: greeting + energik + questioning.
OBSERVE
Apa yang harus terlihat?
Postur · suara · pertanyaan · respons · ekspresi.
FEEDBACK
Gap mana yang dikoreksi?
Spesifik pada tindakan, bukan menyerang pribadi.
REPEAT
Berapa kali diulang?
Sampai standar stabil dan semakin natural.
FOCUS → CORRECT → MASTER → ADD.
BUILD SKILL IN LAYERS
Mulai dari satu behavioral skill. Setelah stabil, tambahkan skill berikutnya tanpa kehilangan skill sebelumnya.
LEVEL 2 — ENERGIK + ANTUSIAS · 20 repetisi
LEVEL 3 — + HAPPINESS
LEVEL 4 — RESPON + INISIATIF
LEVEL 5 — EKSPRESI + QUESTIONING
LEVEL 6 — FULL COMBINATION + CUSTOMER CASE
TRAIN WITH REAL CASES
Scenario terbaik berasal dari kejadian nyata di toko, WhatsApp, showroom, follow-up, service, dan objection customer.
Customer baru masuk tetapi hanya melihat-lihat
TARGET: Greeting · energik · happiness
Sales membuka interaksi tanpa membuat customer merasa ditekan.
Customer langsung bertanya harga
TARGET: Respon · questioning
Jawab pertanyaan lalu gali penggunaan dan prioritas customer.
Customer mengatakan produk terlalu mahal
TARGET: Listening · customer psychology
Jangan defensif. Cari pembanding, fear, motive, dan value yang dibutuhkan.
Customer membandingkan dengan marketplace
TARGET: Communication · value explanation
Bedakan harga, dukungan, service, kondisi produk, dan value secara objektif.
Customer takut produk sulit digunakan
TARGET: Empathy · demonstrate
Pahami kekhawatiran lalu lakukan demonstrasi yang relevan.
Customer berkata: saya pikir-pikir dulu
TARGET: Questioning · follow-up
Cari hal yang masih belum jelas tanpa memaksa closing.
Customer WhatsApp hanya membaca tanpa membalas
TARGET: Follow-up · communication
Follow-up relevan, singkat, tidak mengejar secara berlebihan.
Customer komplain setelah pembelian
TARGET: Self-control · empathy · solution
Dengarkan, klarifikasi fakta, jaga emosi, lalu arahkan ke solusi.
MASUKKAN KE SCENARIO BANK.
STOP THE ERROR.
DON’T REHEARSE THE ERROR.
Jika trainee mengulang kesalahan yang sama, hentikan latihan. Jangan membiarkan kesalahan menjadi pola yang ikut dilatih.
↓
STOP
↓
CORRECT
↓
DEMONSTRATE
↓
REPEAT
↓
OBSERVE AGAIN ↻
FEEDBACK 3–2–1
3 hal yang sudah bagus
2 hal yang harus diperbaiki
1 prioritas latihan berikutnya
Feedback harus segera, spesifik, dan dapat dipraktikkan.
BE SPECIFIC
Bukan: “Kurang bagus.”
Gunakan: “Greeting sudah jelas. Tetapi eye contact terlambat dan suara turun di akhir. Ulangi sekali lagi dengan eye contact sejak awal dan volume suara stabil.”
SHORT. FOCUSED. REPEATED.
Role play tidak harus selalu panjang. Lebih baik latihan singkat dengan target jelas dan dilakukan konsisten.
Jelaskan target latihan hari ini.
Supervisor memperagakan.
Trainee melakukan 10–30 repetisi sesuai skill.
Koreksi gap utama.
Catat hasil dan tentukan latihan berikutnya.
CAN THE SUPERVISOR TRAIN?
Bukan hanya trainee yang dinilai. Kompetensi Supervisor sebagai trainer juga harus diukur. Target minimum 4/5 pada setiap kompetensi.
| COMPETENCY | TARGET |
|---|---|
| TEACH | ≥ 4/5 |
| DEMONSTRATE | ≥ 4/5 |
| BUILD SCENARIO | ≥ 4/5 |
| OBSERVE GAP | ≥ 4/5 |
| FEEDBACK | ≥ 4/5 |
| CORRECT & REPEAT | ≥ 4/5 |
PREPARE
☐ Pilih 1 target skill
☐ Tentukan scenario
☐ Tentukan indikator sukses
☐ Siapkan demonstrasi
☐ Tentukan jumlah repetisi
REVIEW
☐ Feedback 3–2–1
☐ Catat gap utama
☐ Score trainee
☐ Tentukan repetition target
☐ Masukkan real case baru ke Scenario Bank
PRACTICE UNTIL IT BECOMES NATURAL.
Training membangun kemampuan melalui latihan yang disengaja. Supervisor memastikan trainee tidak hanya tahu—tetapi mampu melakukan.
DON’T JUST TEACH.
BUILD THE SKILL.
TEACH → DEMONSTRATE → ROLE PLAY → FEEDBACK → REPEAT
ORCA BUSINESS ACADEMY